"bye" — "selamat tinggal"
tersirat dan tidak tersirat, keduanya harus dihadapi, bukan?
bisa jadi kita yang ditinggalkan atau justru kita yang meninggalkan.
bagiku, rasanya menghadapi perpisahan dalam bentuk apapun adalah hal yang paling sulit. butuh, mungkin setengah dari 365 hari untuk akhirnya berdamai. karena pasti slalu ada hari-hari dimana aku akan datang mengingat, meratapi hal-hal yang tertinggal, menangisi hal-hal yang sudah selesai. anehnya, aku suka perasaan ini.
"grieving for everything that left, for those who've gone, for the things that's ended even before it started,"
tidak sekali dua kali aku bertanya, mengapa ada akhir masa?
untuk apa dipertemukan kalau memang harus berakhir?
dan, mungkin Tuhan menjawab sesederhana seperti, "dunia ini saja ada awal mulanya, begitupun dengan akhirnya. yang mungkin sebentar lagi"
begitupun isinya ya, kataku.
pertemuan,
sebuah lagu,
durasi kelas mata kuliah,
pagi dan malam,
tinta pena,
pertemanan,
garis nadi,
dan waktu kita.
"selamat tinggal" memang tidak pernah dipinta untuk bersikap adil, tapi ia tetap akan datang apapun dan bagaimanapun situasinya. berkesan, kurang berkesan, diterima, tidak diterima, saat marah, saat hampa, sudah terduga, tiba-tiba, sekarang atau nanti.
untukku, biasakanlah.
Comments (0)
Login to post a comment.